Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Gubernur Bali Ingatkan Pengusaha agar Sadar Lingkungan

Posted by enji 21.22, under | No comments

TABANAN: Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan agar para pengusaha di daerahnya tidak hanya mengeruk keuntungan ekonomis semata, melainkan juga berpartisipasi memelihara lingkungan Pulau Dewata.

"Jangan hanya uangnya saja yang dikeruk dan dibawa ke luar. Mari kita semua ikut memelihara alam Bali," katanya pada acara penanaman bibit bambu dan cempaka kuning di Padukuhan Bangsing, Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Minggu (1/5).

Melalui kegiatan penanaman pohon serangkaian memperingati Hari Bumi, 22 April, Gubernur Pastika ingin mengajak semua komponen masyarakat daerah ini untuk meningkatkan kepedulian terhadap ibu pertiwi.

"Ibu pertiwi telah memberikan kehidupan bagi kita semua. Mari kita lestarikan dengan memelihara airnya serta menjaga flora dan faunanya. Jika kita seenaknya mengeksploitasi alam ini dengan mengeruk kekayaan dan menyedot airnya secara semena-mena, tentu ibu pertiwi akan marah," ujarnya.

Wujud kepedulian terhadap ibu pertiwi dan lingkungan, kata Gubernur Pastika, dapat ditunjukkan mulai dengan perilaku sederhana seperti penanaman pohon.

Diingatkan agar tidak berhenti pada penanaman, namun haruslah dilanjutkan hingga pemeliharaannya. Minimal setengah dari jumlah pohon yang ditanam saat ini dapat hidup terpelihara hingga tumbuh besar.

Menjaga alam Bali juga dapat ditunjukkan melalui komitmen pengusaha swalayan untuk tidak menyediakan kantong plastik lagi dalam setiap transaksi belanja yang dilakukan.

Ia mengatakan, sebaiknya mereka pemilik "department store" dan swalayan agar menyediakan kardus atau barang lainnya yang mudah hancur untuk menggantikan kantong plastik pembungkus karena butuh waktu 500 tahun agar plastik dapat menyatu dengan tanah.

"Jika semua swalayan tidak lagi menyiapkan kantong plastik dan bisa mengolahnya, harapan tahun 2013 Bali bebas sampah plastik tentu dapat terwujud," jelasnya.

Gubernur Pastika dalam kesempatan itu juga mengajak segenap rakyatnya tidak lagi mengandalkan kantong plastik setiap berbelanja. "Jangan tangan kosong, bawa tas atau keranjang dari rumah saat berbelanja ke toko, pasar, dan swalayan. Memelihara alam Bali menjadi tanggung jawab kita bersama," ucapnya.

Sementara itu Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali AA Alit Sastrawan mengatakan, pada kegiatan penghijauan tersebut sengaja menanam bibit bambu dan cempaka kuning sesuai permintaan masyarakat setempat. Dua jenis tanaman itu dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari masyarakat dan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan jenis tanaman penghijauan lainnya. "Pohon ini dapat membantu menjaga ketersediaan air tanah, sekaligus membawa kesejahteraan bagi masyarakat," ujarnya.

Kegiatan itu, kata Sastrawan, sekaligus juga digunakan untuk mensosialisasikan bahaya pencemaran sampah plastik pada anak-anak. Jika anak-anak sejak dini sudah diajak mencintai lingkungan, ia berharap Bali menjadi kian bersih dan nyaman.

Dalam kegiatan penghijauan itu ditanam 2.000 bibit bambu dan 400 bibit cempaka kuning yang merupakan sumbangsih PT Karya Tangan Indah dan Circle K. (Ant/OL-2)






http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/02/222538/290/101/Gubernur-Bali-Ingatkan-Pengusaha-agar-Sadar-Lingkunga

Rabu, 25 Mei 2011

Pekerja Usia Dini

Posted by enji 23.11, under | No comments

Masa liburan sekolah belum usai. Kebanyakan siswa memanfatkan masa liburannya dengan pergi bersama keluarga ke tempat-tempat wisata. Namun berbeda dengan Tatang dan Asep (sebut saja begitu). Keduanya memilih mengisi liburan dengan berjualan terompet di area parkir supermarket.

Berjualan terompet dengan memanfaatkan momen euforia sepakbola dan tahun baru (dok - indra kh)

Berjualan di musim liburan seperti sekarang sebenarnya bukan pilihan kedua bocah ini. Karena desakan kebutuhan ekonomilah yang membuat mereka mesti merelakan masa liburannya diisi dengan berdagang.

Saya bertemu kedua anak ini beberapa pekan lalu di sebuah Supermarket di Kota Lembang. Ketika baru saja turun dari mobil mereka langsung menghampiri seraya menawarkan terompet dagangannya kepada saya. “A peseran A, mirah ieu ngan 2500,” Ujar mereka sambil memberikan sebuah terompet yang terbuat dari bekas gulungan benang kepada saya. (Kang tolong dibeli, terompetnya murah kok hanya 2500 Rupiah – red). Harganya memang murah juga pikir saya waktu itu. Seingat saya pada tahun lalu harga untuk terompet yang serupa adalah 5000 Rupiah.

Saya akhirnya setuju untuk membeli beberapa terompet dari mereka, sambil sejenak ngobrol dengan mereka tentang beberapa hal, dan tak lupa mengambil foto Tatang dan Asep.

Sore itu ternyata tak banyak juga orang lain yang membeli terompet. Keberhasilan Timnas melaju ke semifinal Piala AFF 2010 dan menjelang datangnya tahun baru menjadi momen yang tepat bagi bocah-bocah penjual terompet ini dalam menjajakan dagangannya.

***

Di samping salut dengan kemauan Tatang dan Asep untuk berjualan terompet, ada juga terselip rasa sedih di hati. Bagaimanapun juga mereka itu masih anak-anak, yang mungkin memiliki keinginan untuk berlibur layaknya anak-anak yang lain. Di balik senyum dan tawa mereka, bocah-bocah ini sesungguhnya termasuk pekerja anak (working children) yang tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan dan konvensi ILO, yang jumlahnya semestinya bisa semakin dikurangi di negeri ini.

Survei Pekerja Anak (SPA) dari Badan Pusat Statistik (BPS) bekerjasama dengan Organisasi Perburuhaan Internasional (ILO) yang dipublikasikan pada Bulan Februari 2010 menemukan fakta bahwa dari 58,8 juta anak Indonesia pada 2009, 1,7 juta jiwa diantaranya menjadi pekerja anak.

Ada tiga kategori definisi untuk pekerja anak. Dari tulisan yang saya kutip dari Kantor Berita Antara menyebutkan hal sebagai berikut:

1. Sesuai perundangan, umur minimum bekerja 13 tahun, sehingga anak yang bekerja di bawah 13 tahun adalah pekerja anak.
2. Sesuai ketentuan anak umur 13-14 tahun diperbolehkan bekerja dengan jam kerja tiga jam sehari atau 15 jam seminggu. Mereka yang bekerja di atas itu adalah pekerja anak.
3. Mereka yang berusia lebih 15-17 tahun dengan jam kerja 40 jam seminggu.

Survei menemukan, setidaknya 674 ribu anak di bawah 13 tahun berstatus bekerja, sekitar 321 ribu anak umur 13-14 tahun bekerja lebih dari 15 jam per minggu, dan sekitar 760 ribu jiwa anak umur 15-17 tahun bekerja di atas 40 jam per hari.

Saya hanya bisa berharap semoga ke depan jumlah pekerja anak di Indonesia bisa terus dikurangi.

Diberdayakan oleh Blogger.

Tags

asmaul husna

musiq kuh

Blog Archive

cuap


ShoutMix chat widget